Laman

Gambar

SISWA PERINGKAT SEPULUH BESAR UN SMPN 1 KAYEN 2015

Gambar

BERGAMBAR BERSAMA DI HARI GURU NASIONAL 2014

Gambar

GAMBAR BERSAMA SETELAH PELEPASAN KELAS IX TAHUN 2013

Gambar

SMPN 1 KAYEN BERWISATA KE PANTAI KUTA PULAU BALI.

Gambar

JUARA 3, LOMBA PENELITIAN ILMIAH REMAJA, KAB. PATI 2013

Gambar

JUARA UMUM PENCAK SILAT BUPATI CUP 2014 KABUPATEN PATI

Gambar

SERAH TERIMA PENGURUS OSIS LAMA KE PENGURUS OSIS BARU

Tampilkan postingan dengan label Kebangsaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebangsaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2020

Renungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 75, 17 Agustus 2020

 Ditulis dan dipostingkan kembali oleh Pak Damin

Tulisan ini pernah penulis postingkan pada Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tiga tahun lalu. Dikarenakan ulasan masih relevan dengan situasi dan keadaan sekarang, maka tidak ada salahnya apabila Admin mempostingkan kembali tulisan tersebut dengan revisi seperlunya. 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para Pahlawan nya. Tiga ratus lima puluh tahun atau setengah abad bangsa kita berada dibawah kekuasaan dan penjajahan Kolonial Belanda. Tiga setengah tahun kita berada dibawah cengkeraman bangsa  Jepang. Sebelum kedua bangsa itu menjajah bangsa kita, bangsa kita adalah bangsa yang merdeka. Keberadaan Kerajaan Nasional Sriwijaya  dan  Kerajaan Nasional  Majapahit adalah sebagai bukti bahwa bangsa  kita adalah bangsa yang besar,bangsa yang berdaulat dan bangsa yang merdeka.

Di masa penjajahan, segala sesuatu diatur, dari aturan sosial kemasyarakatan,pendidikan,perdagangan  hingga pemerintahan. Kita tidak boleh membantah. Kita harus tunduk patuh. Kita harus menuruti segala aturan mereka. Kita ibarat sapi perah. Kerja rodi pada masa Penjajahan Belanda dan Rhomusha pada masa Penjajahan Jepang, adalah bukti dari semua itu. Kerja Rodi dan Rhomusa adalah kerja paksa tanpa upah. Boleh dikata kita menjadi budak dan buruh di negeri sendiri. Sebagian besar  kekayaan alam dikeruk untuk kemakmuran bangsa Penjajah. Pedih,perih,pilu,menyakitkan. Untuk melanggengakan kekuasaan, mereka menggunakan taktik Devide At Impera, Memecah belah dan menguasai. Mengadu domba dan kemudian mereka menguasai.

Dari ketidak adilan, kesengsaraan, timbul perlawanan sengit yang muncul dari setiap daerah di negeri ini.Tak hanya harta benda, nyawapun dipertaruhkan untuk perjuangan melawan kezaliman penjajah. Pangeran Antasari,Patimura,Hasanudin,Pangeran Diponegoro,Faletehan,Cut Nya Din, Tuanku Imam Bonjol dan masih banyak lagi pahlawan nasional yang lain rela mengorbankan nyawa untuk negeri ini. Karena perjuangan yang masih terkotak kotak, walau dengan segala upaya dan segala persenjataan, perlawanan dapat diredam dan ditumpas oleh  Penjajah. 

Keinginan untuk merdeka lepas dari penjajah,  ada satu senjata yang ampuh yaitu Persatuan dan Kesatuan.Menyadari kelemahan perjuangan yang bersikap kedaerahan, perlu diwujudkan perjuangan secara menyeluruh, perjuangan secara nasional. Oleh karena itu, pada tanggal 28 Oktober 1928 diadakan Sumpah Pemuda dengan isi  Sumpah:  Bertanah air satu Tanah Air Indonesia,Berbangsa satu Bangsa Indonesia, dan berbahasa satu Bahasa Indonesia. Penggalangan persatuan bangsa nampaknya tidak dapat ditawar lagi, Sejak saat itulah sebagian besar masyarakat Indonesia menyadari bahwa hanya dengan Persatuan dan Kesatuan Bangsa dan perjuangan yang luar biasa akan mengusir penjajahan dari bumi pertiwi.


Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs Moh. Hatta  atas nama Bangsa Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia tentu saja dengan dukungan seluruh masyarakat Indonesia pada waktu itu. Tak sedikit pengorbanan harta, jiwa dan raga para pejuang kemerdekaan yang dengan penuh semangat mengusir penjajah dari Republik Indonesia tercinta ini.


Gambar : Ir. Soekarno
Gambar : Drs. Mohammad Hatta
Dalam kita  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ....Agama boleh beda, kepercayaan  boleh beda, suku boleh beda, bahasa boleh beda, warna kulit boleh beda, adat istiadat boleh beda,warna kulit boleh beda, jenis rambut boleh beda, partai boleh beda, ras boleh beda,warna boleh beda....Tapi kita tidak ingin bercerai berai,kita tidak ingin menderita, kita tak ingin lagi berada dibawah tekanan Penjajah, kita ingin tetap hidup merdeka. Walau kita berbeda agama, berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda adat istiadat....Tetapi kita tetap satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia. Kita juga satu bendera yaitu bendera Merah Putih.Walau kita kadang tak sependapat, kita telah  mampu dan sudah selayaknya hidup rukun berdampingan. Saling membantu,saling menolong satu sama lain dalam berbuat kebaikan. Tak memandang suku, tak memandang agama, tak memandang bahasa, tak memandang perbedaan yang ada, kita hidup rukun. Berbeda dalam Persatuan. Persatuan dalam Perbedaan. Unity in Deversity.

Walau bangsa Indonesia tidak ingin dijajah, bukan berarti kita bisa hidup sendiri. Sebagai bangsa yang merdeka, bangsa kita adalah merupakan  bagian dari dunia. Kita butuh bangsa dan negara lain untuk saling bekerja sama dan saling membantu dan selalu hidup rukun dengan negara negara lain di dunia ini. 
Politik luar negeri yang bebas dan aktif, menjadikan bangsa kita yang merupakan bagian dari dunia  mengisyaratkan untuk saling bekerja sama, saling menghargai dan saling menghormati dengan bangsa dan negara lain di dunia ini.


Memang cita -cita para pendiri bangsa ini yang tertera pada Pembukaan UUD 1945 belum sepenuhnya terwujud. Tetapi bila kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara kita bandingkan dengan di alam penjajahan adalah 180 derajat. Menurut buku sejarah yang kita baca dan menurut beberapa pelaku sejarah yang sekarang masih hidup, di masa Penjajahan tak tersedia secara melimpah nasi, jagung dan ketela atau sagu  untuk dimakan. Bila tak ada makanan, bonggol pisang juga dimasak dan dimakan. Pada masa penjajahan, pakaian yang dikenakan adalah kain goni. Sekarang kita memakai pakaian dari kain.


Telah banyak yang telah dicampai oleh masyarakat setelah kemerdekaan. Bangsa kita telah diakui sebagai bangsa yang berdaulat dan bangsa yang merdeka oleh sebagian besar bangsa bangsa di dunia.Bendera merah putih telah dikibarkan sejajar dengan bendera bendera kebangsaan dari seluruh dunia di kantor pusat Perserikatan Bangsa Bangsa di New York Amerika Serikat. Banyak masyarakat dari bangsa lain yang mengunjungi Indonesia. Sebagian dari mereka terkagum kagum dengan keindahan bumi pertiwi, keramahan masyarakat dan beraneka warna adat istiadat dan dengan hidup rukunnya masyarakat Indonesia dengan latar belakang agama yang berbeda. Persediangan sandang, pangan, tempat tinggal yang cukup, udara segar, serta layanan pendidikan dan kesehatan yang cukup memadai.

Tetapi ada permasalahan permasalahan yang masih perlu dipecahkan bersama, misalnya:
1. Hutang Luar Negeri Bangsa Indonesia yang cukup besar yang perlu dicicil, dikurangi atau bahkan kalau bisa segera dapat dilunasi.
2. Sebagian masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.
3. Bertambahnya angkatan kerja yang demikian besar setiap tahunnya,
4. Masih besarnya biaya pendidikan di beberapa satuan pendidikan ( terutama biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi)
5. Menurunnya rasa nasionalisme bangsa dengan adanya beberapa kelompok atau orang yang sengaja memberikan ijin demikian mudah kepada perusahaan dalam negeri atau perusahaan asing dengan tidak mempedulikan kepentingan masyarakat banyak dan kepentingan nasional.
6. Kemalasan untuk beribadat, belajar, bekerja, bergotong royong yang dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia.
7. Dengan adanya Otonomi Daerah, disinyalir ada Bupati, Gubernur atau Wali Kota yang menyalahgujnakan jabatan dan wewenangnya untuk menjual belikan jabatan tertentu untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya. Dengan jual beli jabatan, tentu saja orang yang membeli jabatan tersebut akan membabi buta untuk segera mengembalikan uangnya, sehingga kemungkinan besar mengabaikan kepentingan rakyat banyak dan bisa juga merugikan negara.

Mari kita peringati Hari Kemerdekaan yang ke 73 dengan sepenuh hati. Kita peringati Hari Kemerdekaan dengan mengucapkan rasa bersyukur kepada Allah SWT, Kita peringati Hari Kemerdekaan ini dengan tetap mempertahankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia dan selalu bekerja keras serta seta berusaha menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengisi kemerdekaan. 

Terima kasih kepada semua para pahlawan negeri ini. Semoga Yang Maha Kuasa mengampuni dosa para Pahlawan Indonesia dan menempatkan ke tempat yang membahagiakan di kehidupan setelah kematian. Semoga bangsa kita tetap merdeka sampai akhir zaman....HIDUP TERUS NEGERI TERCINTA KITA......INDONESA

Senin, 13 Agustus 2018

Upacara Bendera dengan Pembina Upacara Dari Koramil Kayen

Ditulis dan dipostingkan oleh Admin Web. Sebagai bentuk kerja sama antara SMP Negeri 1 Kayen dengan Koramil Kayen adalah menghadirkan Koramil Kayen untuk menjadi Pembina Upacara pada Upacara Bendera Hari Senin pagi ini yang dilaksanakan di halaman SMP Negeri 1 Kayen. Pada amanat dari Pembina Upacara diantaranya adalah para siswa agar tetap menanamkan disiplin baik di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat untuk meraih cita cita para siswa dan meraih hari esok yang lebih baik. 

Sebagia Petugas Upacara adalah Pengurus OSIS dan sebagai regu Paduan Suara Kelas 9 B dengan pengiring nada organ oleh Pak Teguh Kuat.

 Ini adalah beberapa gambar dokumentasi dari kegiatan tersebut.




Senin, 09 Januari 2017

Upacara Bendera Dengan Pembina Upacara Dari KAPOLSEK Kayen

Ditulis dan dipostingkan oleh Admin Web, Foto Dokumentasi oleh Bu Silvia Maria Ulva.
Para pembaca Web SMP Negeri 1 Kayen yang berbahagia, pagi ini jam pertama, dilaksanakan Upacara Bendera dengan Pembina Upacara dari Kapolsek Kayen Bp. Sutoto. Dan sebagai petugas upacara adalah Pengurus OSIS SMP Negeri 1 Kayen.

Ada tiga hal yang disampaikan oleh Bapak Pembina Upacara.
1. Para siswa harus berhati hati di jalan raya, memperhatikan keselamatan diri dan pengguna jalan lain.
2. Para siswa untuk tidak terlibat minum minuman keras, tidak tawuran atau berkelahi dan tidak mengkonsumsi narkoba.
3. Memberi semangat kebangsaan  dengan mengajak peserta secara bersama untuk mengucapkan yel yel: Pancasila ....Jaya, UUD 45..... Jaya, Bhinneka Tuinggal Ika ....Jaya, NKRI.... Harga Mati.

Inilah beberapa gambar dari kegiatan












Jumat, 29 Juli 2016

Renungan Hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia Ke 73, Tahun 2018

Ditulis dan dipostingkan kembali oleh Admin Web.
Animasi Merah Putih
Sumber : http://simomot.com/
Tulisan ini pernah penulis postingkan pada Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada dua tahun lalu. Dikarenakan ulasan masih relevan dengan situasi dan keadaan sekarang, maka tidak ada salahnya apabila Admin mempostingkan kembali tulisan tersebut dengan revisi seperlunya. 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para Pahlawan nya. Tiga ratus lima puluh tahun atau setengah abad bangsa kita berada dibawah kekuasaan dan penjajahan Kolonial Belanda. Tiga setengah tahun kita berada dibawah cengkeraman bangsa  Jepang. Sebelum kedua bangsa itu menjajah bangsa kita, bangsa kita adalah bangsa yang merdeka. Keberadaan Kerajaan Nasional Sriwijaya  dan  Kerajaan Nasional  Majapahit adalah sebagai bukti bahwa bangsa  kita adalah bangsa yang besar,bangsa yang berdaulat dan bangsa yang merdeka.

Di masa penjajahan, segala sesuatu diatur, dari aturan sosial kemasyarakatan,pendidikan,perdagangan  hingga pemerintahan. Kita tidak boleh membantah. Kita harus tunduk patuh. Kita harus menuruti segala aturan mereka. Kita ibarat sapi perah. Kerja rodi pada masa Penjajahan Belanda dan Rhomusha pada masa Penjajahan Jepang, adalah bukti dari semua itu. Kerja Rodi dan Rhomusa adalah kerja paksa tanpa upah. Boleh dikata kita menjadi budak dan buruh di negeri sendiri. Sebagian besar  kekayaan alam dikeruk untuk kemakmuran bangsa Penjajah. Pedih,perih,pilu,menyakitkan. Untuk melanggengakan kekuasaan, mereka menggunakan taktik Devide At Impera, Memecah belah dan menguasai. Mengadu domba dan kemudian mereka menguasai.

Dari ketidak adilan, kesengsaraan, timbul perlawanan sengit yang muncul dari setiap daerah di negeri ini.Tak hanya harta benda, nyawapun dipertaruhkan untuk perjuangan melawan kezaliman penjajah. Pangeran Antasari,Patimura,Hasanudin,Pangeran Diponegoro,Faletehan,Cut Nya Din, Tuanku Imam Bonjol dan masih banyak lagi pahlawan nasional yang lain rela mengorbankan nyawa untuk negeri ini. Karena perjuangan yang masih terkotak kotak, walau dengan segala upaya dan segala persenjataan, perlawanan dapat diredam dan ditumpas oleh  Penjajah. Untuk mengenal nama-nama Pahlawan Nasional dan kegigihan melawan Penjajah silakan : Klik Disini

Keinginan untuk merdeka lepas dari penjajah,  ada satu senjata yang ampuh yaitu Persatuan dan Kesatuan.Menyadari kelemahan perjuangan yang bersikap kedaerahan, perlu diwujudkan perjuangan secara menyeluruh, perjuangan secara nasional. Oleh karena itu, pada tanggal 28 Oktober 1928 diadakan Sumpah Pemuda dengan isi  Sumpah:  Bertanah air satu Tanah Air Indonesia,Berbangsa satu Bangsa Indonesia, dan berbahasa satu Bahasa Indonesia. Penggalangan persatuan bangsa nampaknya tidak dapat ditawar lagi, Sejak saat itulah sebagian besar masyarakat Indonesia menyadari bahwa hanya dengan Persatuan dan Kesatuan Bangsa dan perjuangan yang luar biasa akan mengusir penjajahan dari bumi pertiwi.


Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs Moh. Hatta  atas nama Bangsa Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia tentu saja dengan dukungan seluruh masyarakat Indonesia pada waktu itu. Tak sedikit pengorbanan harta, jiwa dan raga para pejuang kemerdekaan yang dengan penuh semangat mengusir penjajah dari Republik Indonesia tercinta ini.


Gambar : Ir. Soekarno
Gambar : Drs. Mohammad Hatta
Dalam kita  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ....Agama boleh beda, kepercayaan  boleh beda, suku boleh beda, bahasa boleh beda, warna kulit boleh beda, adat istiadat boleh beda,warna kulit boleh beda, jenis rambut boleh beda, partai boleh beda, ras boleh beda,warna boleh beda....Tapi kita tidak ingin bercerai berai,kita tidak ingin menderita, kita tak ingin lagi berada dibawah tekanan Penjajah, kita ingin tetap hidup merdeka. Walau kita berbeda agama, berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda adat istiadat....Tetapi kita tetap satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia. Kita juga satu bendera yaitu bendera Merah Putih.Walau kita kadang tak sependapat, kita telah  mampu dan sudah selayaknya hidup rukun berdampingan. Saling membantu,saling menolong satu sama lain dalam berbuat kebaikan. Tak memandang suku, tak memandang agama, tak memandang bahasa, tak memandang perbedaan yang ada, kita hidup rukun. Berbeda dalam Persatuan. Persatuan dalam Perbedaan. Unity in Deversity.

Walau bangsa Indonesia tidak ingin dijajah, bukan berarti kita bisa hidup sendiri. Sebagai bangsa yang merdeka, bangsa kita adalah merupakan  bagian dari dunia. Kita butuh bangsa dan negara lain untuk saling bekerja sama dan saling membantu dan selalu hidup rukun dengan negara negara lain di dunia ini. 
Politik luar negeri yang bebas dan aktif, menjadikan bangsa kita yang merupakan bagian dari dunia  mengisyaratkan untuk saling bekerja sama, saling menghargai dan saling menghormati dengan bangsa dan negara lain di dunia ini.


Memang cita -cita para pendiri bangsa ini yang tertera pada Pembukaan UUD 1945 belum sepenuhnya terwujud. Tetapi bila kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara kita bandingkan dengan di alam penjajahan adalah 180 derajat. Menurut buku sejarah yang kita baca dan menurut beberapa pelaku sejarah yang sekarang masih hidup, di masa Penjajahan tak tersedia secara melimpah nasi, jagung dan ketela atau sagu  untuk dimakan. Bila tak ada makanan, bonggol pisang juga dimasak dan dimakan. Pada masa penjajahan, pakaian yang dikenakan adalah kain goni. Sekarang kita memakai pakaian dari kain.


Telah banyak yang telah dicampai oleh masyarakat setelah kemerdekaan. Bangsa kita telah diakui sebagai bangsa yang berdaulat dan bangsa yang merdeka oleh sebagian besar bangsa bangsa di dunia.Bendera merah putih telah dikibarkan sejajar dengan bendera bendera kebangsaan dari seluruh dunia di kantor pusat Perserikatan Bangsa Bangsa di New York Amerika Serikat. Banyak masyarakat dari bangsa lain yang mengunjungi Indonesia. Sebagian dari mereka terkagum kagum dengan keindahan bumi pertiwi, keramahan masyarakat dan beraneka warna adat istiadat dan dengan hidup rukunnya masyarakat Indonesia dengan latar belakang agama yang berbeda. Persediangan sandang, pangan, tempat tinggal yang cukup, udara segar, serta layanan pendidikan dan kesehatan yang cukup memadai.

Tetapi ada permasalahan permasalahan yang masih perlu dipecahkan bersama, misalnya:
1. Hutang Luar Negeri Bangsa Indonesia yang cukup besar yang perlu dicicil, dikurangi atau bahkan kalau bisa segera dapat dilunasi.
2. Sebagian masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.
3. Bertambahnya angkatan kerja yang demikian besar setiap tahunnya,
4. Masih besarnya biaya pendidikan di beberapa satuan pendidikan ( terutama biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi)
5. Menurunnya rasa nasionalisme bangsa dengan adanya beberapa kelompok atau orang yang sengaja memberikan ijin demikian mudah kepada perusahaan dalam negeri atau perusahaan asing dengan tidak mempedulikan kepentingan masyarakat banyak dan kepentingan nasional.
6. Kemalasan untuk beribadat, belajar, bekerja, bergotong royong yang dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia.
7. Dengan adanya Otonomi Daerah, disinyalir ada Bupati, Gubernur atau Wali Kota yang menyalahgujnakan jabatan dan wewenangnya untuk menjual belikan jabatan tertentu untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya. Dengan jual beli jabatan, tentu saja orang yang membeli jabatan tersebut akan membabi buta untuk segera mengembalikan uangnya, sehingga kemungkinan besar mengabaikan kepentingan rakyat banyak dan bisa juga merugikan negara.

Mari kita peringati Hari Kemerdekaan yang ke 73 dengan sepenuh hati. Kita peringati Hari Kemerdekaan dengan mengucapkan rasa bersyukur kepada Allah SWT, Kita peringati Hari Kemerdekaan ini dengan tetap mempertahankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia dan selalu bekerja keras serta seta berusaha menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengisi kemerdekaan. 

Terima kasih kepada semua para pahlawan negeri ini. Semoga Yang Maha Kuasa mengampuni dosa para Pahlawan Indonesia dan menempatkan ke tempat yang membahagiakan di kehidupan setelah kematian. Semoga bangsa kita tetap merdeka sampai akhir zaman....HIDUP TERUS NEGERI TERCINTA KITA......INDONESA

Rabu, 05 Agustus 2015

Renungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70, tanggal 17 Agustus 2015

Ditulis dan dipostingkan : oleh Admin Web..
Animasi Merah Putih
Sumber : http://simomot.com/
Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para Pahlawan nya. Tiga ratus lima puluh tahun atau setengah abad bangsa kita berada dibawah kekuasaan dan penjajahan Kolonial Belanda. Tiga setengah tahun kita berada dibawah cengkeraman bangsa  Jepang. Sebelum kedua bangsa itu menjajah bangsa kita, bangsa kita adalah bangsa yang merdeka. Keberadaan Kerajaan Nasional Sriwijaya  dan  Kerajaan Nasional  Majapahit adalah sebagai bukti bahwa bangsa  kita adalah bangsa yang besar,bangsa yang berdaulat dan bangsa yang merdeka.

Di masa penjajahan, segala sesuatu diatur, dari aturan sosial kemasyarakatan,pendidikan,perdagangan  hingga pemerintahan. Kita tidak boleh membantah. Kita harus tunduk patuh. Kita harus menuruti segala aturan mereka. Kita ibarat sapi perah. Kerja rodi pada masa Penjajahan Belanda dan Rhomusha pada masa Penjajahan Jepang, adalah bukti dari semua itu. Kerja Rodi dan Rhomusa adalah kerja paksa tanpa upah. Boleh dikata kita menjadi budak dan buruh di negeri sendiri. Sebagian besar  kekayaan alam dikeruk untuk kemakmuran bangsa Penjajah. Pedih,perih,pilu,menyakitkan. Untuk melanggengakan kekuasaan, mereka menggunakan taktik Devide At Impera, Memecah belah dan menguasai. Mengadu domba dan kemudian mereka menguasai.

Dari ketidak adilan, kesengsaraan, timbul perlawanan sengit yang muncul dari setiap daerah di negeri ini.Tak hanya harta benda, nyawapun dipertaruhkan untuk perjuangan melawan kezaliman penjajah. Pangeran Antasari,Patimura,Hasanudin,Pangeran Diponegoro,Faletehan,Cut Nya Din, Tuanku Imam Bonjol dan masih banyak lagi pahlawan nasional yang lain rela mengorbankan nyawa untuk negeri ini. Karena perjuangan yang masih terkotak kotak, walau dengan segala upaya dan segala persenjataan, perlawanan dapat diredam dan ditumpas oleh  Penjajah. Untuk mengenal nama-nama Pahlawan Nasional dan kegigihan melawan Penjajah silakan : Klik Disini

Keinginan untuk merdeka lepas dari penjajah,  ada satu senjata yang ampuh yaitu Persatuan dan Kesatuan.Menyadari kelemahan perjuangan yang bersikap kedaerahan, perlu diwujudkan perjuangan secara menyeluruh, perjuangan secara nasional. Oleh karena itu, pada tanggal 28 Oktober 1928 diadakan Sumpah Pemuda dengan isi  Sumpah:  Bertanah air satu Tanah Air Indonesia,Berbangsa satu Bangsa Indonesia, dan berbahasa satu Bahasa Indonesia. Penggalangan persatuan bangsa nampaknya tidak dapat ditawar lagi, Sejak saat itulah sebagian besar masyarakat Indonesia menyadari bahwa hanya dengan Persatuan dan Kesatuan Bangsa dan perjuangan yang luar biasa akan mengusir penjajahan dari bumi pertiwi.


Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs Moh. Hatta  atas nama Bangsa Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia tentu saja dengan dukungan seluruh masyarakat Indonesia pada waktu itu. Tak sedikit pengorbanan harta, jiwa dan raga para pejuang kemerdekaan yang dengan penuh semangat mengusir penjajah dari Republik Indonesia tercinta ini.


Dalam kita  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ....Agama boleh beda, kepercayaan  boleh beda, suku boleh beda, bahasa boleh beda, warna kulit boleh beda, adat istiadat boleh beda,warna kulit boleh beda, jenis rambut boleh beda, partai boleh beda, ras boleh beda,warna boleh beda....Tapi kita tidak ingin bercerai berai,kita tidak ingin menderita, kita tak ingin lagi berada dibawah tekanan Penjajah, kita ingin tetap hidup merdeka. Walau kita berbeda agama, berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda adat istiadat....Tetapi kita tetap satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia. Kita juga satu bendera yaitu bendera Merah Putih.Walau kita kadang tak sependapat, kita telah  mampu dan sudah selayaknya hidup rukun berdampingan. Saling membantu,saling menolong satu sama lain dalam berbuat kebaikan. Tak memandang suku, tak memandang agama, tak memandang bahasa, tak memandang perbedaan yang ada, kita hidup rukun. Berbeda dalam Persatuan. Persatuan dalam Perbedaan. Unity in Deversity.


Walau bangsa Indonesia tidak ingin dijajah, bukan berarti kita bisa hidup sendiri. Sebagai bangsa yang merdeka, bangsa kita adalah merupakan  bagian dari dunia. Kita butuh bangsa dan negara lain untuk saling bekerja sama dan saling membantu dan selalu hidup rukun dengan negara negara lain di dunia ini. 
Politik luar negeri yang bebas dan aktif, menjadikan bangsa kita yang merupakan bagian dari dunia  mengisyaratkan untuk saling bekerja sama, saling menghargai dan saling menghormati dengan bangsa dan negara lain di dunia ini.

Memang cita -cita para pendiri bangsa ini yang tertera pada Pembukaan UUD 1945 belum sepenuhnya terwujud. Tetapi bila kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara kita bandingkan dengan di alam penjajahan adalah 180 derajat. Menurut buku sejarah yang kita baca dan menurut beberapa pelaku sejarah yang sekarang masih hidup, di masa Penjajahan tak tersedia secara melimpah nasi, jagung dan ketela atau sagu  untuk dimakan. Bila tak ada makanan, bonggol pisang juga dimasak dan dimakan. Pada masa penjajahan, pakaian yang dikenakan adalah kain goni. Sekarang kita memakai pakaian dari kain.

Mari kita peringati Hari Kemerdekaan yang ke 70 dengan sepenuh hati. Kita peringati Hari Kemerdekaan dengan mengucapkan rasa bersyukur kepada Allah SWT, Kita peringati Hari Kemerdekaan ini dengan tetap mempertahankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia dan selalu bekerja keras serta seta berusaha menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengisi kemerdekaan. 


Terima kasih kepada semua para pahlawan negeri ini. Semoga Yang Maha Kuasa mengampuni dosa para Pahlawan Indonesia dan menempatkan ke tempat yang membahagiakan di kehidupan setelah kematian. Semoga bangsa kita tetap merdeka sampai akhir zaman....HIDUP TERUS NEGERI TERCINTA KITA......INDONESA

Kamis, 23 Juli 2015

Hikmah Hari Raya Idul Fitri Bagi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Ditulis dan dipostingkan oleh Admin Web. Para pembaca Website SMP Negeri 1 Kayen yang budiman. Pada posting kali ini, Admin Web ingin sharing sebuah tema dengan judul diatas. Hikmah adalah sesuatu positip yang dapat dipetik dari sebuah peristiwa atau kejadian.

     Setelah sebulan menjalankan kewajiban berpuasa, Umat Islam merayakan hari Idul Fitri. Dengan bahasa lain umat Islam merayakan lebaran. Orang Jawa menyebutnya dengan 'bada'. Perayaan lebaran diawali dengan menjalankan sholat Idul Fitri di masjid masjid atau di lapangan tepat pada 1 Syawal. Sebelum menjalankan sholat sunah Idul Fitri, malam harinya dikumandangkan Takbir semalam suntuk dan Zakat Fitrah sebesar 2,5 kg makanan pokok. Dapat berupa beras, jagung atau sagu (tergantung makanan pokok daerah masing-masing). Hasil dari zakat fitrah dibagikan kepada para fakir miskin dan 6 asnaf lainnya. Asnaf adalah orang yang berhak menerima zakat fitrah. Ada 8 asnaf diantaranya adalah fakir,miskin, amil. dan ibnu sabil. Fakir adalah orang yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi hasil dari mereka bekerja tidak bisa mencukupi kebutuhan pokok. Fakir adalah orang yang kadang mempunyai pekerjaan kadang tidak dan hidup serba kekurangan. Amil adalah panitia zakat fitrah. Ibnu sabil yaitu orang yang berjuang di jalan Allah misalnya para guru mengaji dan TPQ yang tidak memperoleh pembayaran secara periodik.

     Pada hari Idul Fitri ada kebiasaan yang sangat baik yaitu bersilaturohim atau saling mengunjungi kerabat, tetangga, teman dan ke guru. Oleh karena itu. ada acara mudik atau pulang kampung halaman. Banyak anggota keluarga yang menuntut ilmu dan mencari nafkah di lain daerah, kota lain, pulau lain  bahkan ada yang keluar negara. Pada saat lebaran mereka berusaha untuk pulang. Mereka ingin bertemu keluarga, teman, tetangga dan para guru. Mereka berusaha untuk saling mengunjungi dan memohon maaf satu dengan lain atau saling memaafkan. 

     Berbagai macam cara mudik atau menuju ke daerah asal ditempuh. Ada yang menggunakan transportasi umum misalnya bus, kereta api, pesawat terbang dan kapal laut. Dan ada yang memakai kendaraan pribadi baik itu kendaraan roda empat atau mobil dan kendaraan beroda dua atau sepeda motor. 

     Dari uraian singkat tentang hari Idul Fitri atau hari lebaran, ada beberapa hikmah dari Hari Idul Fitri untuk kehidupan bebangsa dan bernegara. Menurut pendapat penulis hikmah-hikmah tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Memperkuat persatuan dan  kesatuan bangsa dan negara.
     Kebiasaan saling bersilaturohim atau saling mengunjungi satu sama lain dan saling       memberi maaf pada hari Idul Fitri adalah sebuah kebiasaan yang baik. Sebagai manusia biasa. dalam kehidupan sehari hari, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara pasti ada kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.diantara satu dengan lainnya. Dengan mengakui kesalahan dan memohon maaf satu dengan  yang lain tentu akan memperkuat kerukunan. Kesalahan yang dimaksudkan disini adalah kesalahan yang tidak melanggar hukum. Kesalahan yang berat yang sudah memasuki ranah hukum tentu harus diproses dengan ranah hukum. Misalnya hukum pidana, adat atau perdata. 

2. Mempererat persaudaraan.
     Setelah beberapa bulan atau beberapa tahun berpisah antara teman satu dengan teman lain, antara anggota keluarga satu dengan lainnya akan terasa tersambung kembali hubungan pertemanan atau kekeluargaan. Walau sekarang berkomunikasi dapat dilakukan dengan berkirim surat, Hand Phone. Face Book,Twitter dan media sosial lain dengan begitu mudah, tetapi dengan face to face (bertatap muka) dan berjabat tangan akan terasa berbeda. Dengan datang, salam, duduk dan sedikit percakapan dan gurauan akan menambah keakraban.


3. Memperkokoh kepedulian dengan yang kurang beruntung
     Pada akhir bulan puasa atau sebelum menjalankan sholat sunnah Idul Fitri diwajibkan bagi Umat Islam untuk mengeluarkan zakat dan kemudian dibagikan kepada fakir miskin dan asnaf lainnya. Hal ini mengandung hikmah bahwa kepedulian dengan teman, tetangga atau saudara yang kurang beruntung perlu diperkokoh. Kepedulian semacam ini sebenarnya tidak hanya setahun sekali tetapi perlu dilakukan secara terus menerus. Sudah sepantasnya umat yang sudah beruntung harus mau berbagi kepada teman, saudara atau tetangga yang masih belum beruntung.

4. Mengenal adat istiadat dan budaya dari lain daerah.
     Ketika dalam perjalanan pulang dan kembali pada Hari Idul Fitri, para pemudik  tentu akan berhenti sejenak untuk beristirahat, sholat dan makan di daerah tertentu. Dengan sengaja atau tidak, mereka akan mengetahui adat, makanan atau budaya yang mereka singgahi. Dengan demikian mereka akan mengetahui adat istiadat, budaya bahkan makanan daerah tertentu yang ada di Indonesia. Sebagai pemudik dan sekaligus sebagai Warga Negara Indonesia tentu akan merasa bangga demikian kaya negeri ini dengan adat istiadat dan budayanya.

5. Melatih kesabaran dan menghormati pengguna jalan dan pihak keamanan
     Perjalanan kadang melelahkan. Kadang harus bersabar ketika ada kemacetan di jalan. Tanpa kenal lelah, Pihak Keamanan turun di jalan dan memberi rasa aman. Tak ketinggalan para simpatisan dan sukarelawan berada di posko lebaran. Dengan inilah kita perlu bersabar dan mengucapkan banyak terima kasih pada Pihak Keamanan dan Para Sukarelawan.

6. Lebih membiasaakan budaya antri 
     Para pengendara dan pengemudi kadang harus mengisi bahan bakar solar, premium atau pertamax di pom bensin dalam perjalanan mudik lebaran untuk kendaraan yang dikemudikan atau dikendarai. Dalam situasi seperti ini, siapa yang datang duluan harus dilayani lebih dulu, dan yang datang belakangan juga harus bersabar untuk diisi bahan bakar giliran belakang. Tidak boleh main srobot. Tidak boleh saling mendahului. Dengan demikian akan lebih membiasakan budaya antri.

     Para pembaca yang budiman, hari Idul Fitri adalah salah satu hari besar Umat Islam yang dirayakan dengan begitu meriah di negara kita tercinta Indonesia. Ada yang berpendapat merayakan hari Idul Fitri dengan berpakaian baru, berbaju dan sandal yang baru bagi anak anak kecil. Tetapi bagi remaja dan orang dewasa merayakan lebaran tidak harus berpakaian baru. Adanya kesempatan untuk bertemu dengan teman, tetangga dan handai taulan adalah sesuatu yang menggembirakan. 

      Demikian, semoga kita bisa menjumpai hari Idul Fitri di tahun tahun mendatang. (sumber gambar pada posting ini : http://indonesianway.com/).

Rabu, 23 Juli 2014

Renungan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 untuk Indonesia.

Ditulis dan dipostingkan  oleh Admin Web.
Para pembaca Web SMPN 1 Kayen yang budiman. Ijinkan kami memberikan renungan pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014.

PilPres 2014 untuk Indonesia telah diselenggarakan dengan diikuti oleh pasangan  Bp Prabowo Hatta sebagai No Urut 1 dan Bp. Jokowi JK sebagai No Urut 2. Pemilu dilaksanakan 9 Juli 2014 dengan keunggulan Pasangan  No. 2 Bp Jokowi JK dengan  jumlah sekitar 53% jumlah suara masuk. Sedangkan sekitar 47 % suara masuk untuk pasangan No Urut 1 Bp Prabowo Hatta. Menurut pengumuman  rekapitulasi perolehan suara  oleh Ketua KPU tadi malam.

Bangsa kita adalah bangsa yang besar. Besar dalam jumlah penduduk, sumber daya alam, kekayaan budaya,adat istiadat dan bebagai suku bangsa. Pengolahan sumber daya alam dibutuhkan para pimpinan negeri ini yang dapat Ing Ngarso Sun Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani (Menurut Bapak Pendidikan Kita Ki Hajar Dewantoro). Seorang pemimpin berada di depan bisa sebagai teladan atau panutan. Seorang pemimpin berada di tengah ia bisa membangun prakarsa. Seorang pemimpin berada di belakang dapat mendorong dan memotivasi yang dipimpinnya.

Milyaran rupiah uang negara untuk pesta demokrasi ini. Memang demokrasi itu mahal. Dengan pesta demokrasi akan terwujud pimpinan-pimpinan negeri ini yang dikehendaki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Untuk yang memperoleh keunggulan, seyogyanya tidak perlu telalu senang karena beban yang begitu berat untuk melaksanakan amanat Rakyat Indonesia.Untuk para pendukung dari kedua pasangan calon, sebaiknya tidak perlu saling mancari kambing hitam dan tak perlu lagi mencari yang salah. Kita kembali bersatu saling bahu membahu belajar bersama,  bekerja bersama, untuk kesejahteraan bersama, untuk kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik.

Ada pepatah yang mengatakan Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh. Kita tidak ingin perpecahan ada di negeri ini. Pendapat boleh beda, pemikiran boleh beda, agama boleh beda, suku boleh beda,  bahasa boleh beda, kepercayaan boleh beda, warna boleh beda, partai boleh beda, pendukung boleh beda....Tapi kita tetap satu  yaitu Masyarakat Indonesia, Penduduk Indonesia,Tanah Air Indonesia  Bangsa Indonesia dan semua dalam naungan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan satu Bendera Kebangsaan yaitu Merah Putih.

Semoga dengan adanya pimpinan negeri yang baru, akan terwujud kehidupan yang lebih baik. Amiin.

Senin, 20 Mei 2013

HARI KEBANGKITAN NASIONAL

Ditulis dan dipostingkan oleh Admin Web
Tanggal 20 Mei kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Ratusan tahun sebelum kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan sekuat tenaga berusaha mengusir penjajahan dari bumi pertiwi ini dengan masih mengandalkan rasa kedaerahan. Tetapi walau sekuat tenaga dan sekuat kemampuan karena belum adanya rasa persatuan dan kesatuan itu bangsa kita perjuangan selalu kandas di tengah jalan.

Akhirnya dengan semangat baru untuk bersatu, Bangsa Indonesia bangkit bahwa hanya dengan persatuan yang teguh kita akan mampu menghadapi musuh dari dalam maupun dari luar. Tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia mampu melepaskan diri dari penjajahan. Semua ini tidak terlepas dari semangat untuk bangkit bersatu.

Kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional untuk tetap memegang teguh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. untuk selalu merdeka dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan segala bidang untuk mencapai Tujuan Pembangunan Nasional. 

Sabtu, 03 April 2010

CURUG TADAH UDAN SUKOLILO dan OBYEK WISATA PATI SELATAN

Ditulis dan dipostingkan oleh  Admin Web. Curug Tadah Udan terletak di Desa Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Gemericik air sudah terdengar dari sekitar kejauhan 100 meter. Dari ketinggian 13 meter air yang jernih, bersih dan segar tertumpah.

Keberadaan air yang melimpah ini memberikan kesuburan tanah dan kesuburan tanaman  yang dilaluinya.

Ribuan patani dan jutaan insan manusia bersandar pada air ini untuk sumber utama penghidupan.

Air ini mengalir tak kenal musim. Musim Kemarau atau Musim Penghujan. Air ini ada dari sumber-sumber mata air yang ada di perbukitan Kapur Kendeng Utara.

Sumber Ndodo, Jimbaran, Kayen
Goa Pancur, Kayen, Pati